• muhammad ikhsan

Mempersiapkan Masa Depan

Mempersiapkan Masa Depan - Seniman harus fokus pada pengelolaan dan kurasi kegiatan di Taman Ismail Marzuki pasca revitalisasi. Sudah waktunya untuk mengakhiri polemik tentang pembangunan kembali fasilitas.



PROS dan kontra terkait revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Arts Center tidak akan berlarut-larut jika komunitas seni dan pemerintah Jakarta siap untuk duduk dan berbicara dalam suasana saling percaya. Kedua belah pihak harus dipandu oleh tujuan yang sama, yaitu, mengembalikan fasilitas TIM ke perannya sebagai pusat seni terpadu, sejalan dengan cita-cita setengah abad pendirinya.


Beberapa seniman di ibukota khawatir tentang keinginan untuk komersialisasi di balik rencana pusat seni TIM. Salah satu keberatan mereka adalah rencana membangun hotel mewah di sana. Rencana untuk hotel ini tidak termasuk dalam proposal untuk TIM yang dihasilkan dari kompetisi pada tahun 2007. Itu hanya muncul setelah pemerintah Jakarta menunjuk Jakarta Propertindo sebagai manajer proyek. Kartu Poker


Pembangunan kembali pusat seni seharusnya tidak berorientasi pada pencarian keuntungan. Karena itu, pemerintah Jakarta harus memastikan bahwa tujuan utama revitalisasi adalah mengembalikan TIM sebagai pusat kreativitas dan kebebasan berekspresi. Bahkan jika fasilitas seperti hotel akan dibangun di sana, pemerintah Jakarta harus menjamin bahwa mereka sepenuhnya ditujukan untuk mendukung seni.


Dibangun pada masa Gubernur Ali Sadikin pada tahun 1968, TIM pada waktu itu menjadi laboratorium, etalase toko dan barometer seni di Indonesia. Sebagai laboratorium, TIM telah menghasilkan sejumlah seniman terkenal yang kemudian memiliki karir yang sukses. Sebagai etalase toko, tempat ini menjadi tempat pamer dan memamerkan karya seni bernilai estetika tinggi. Di masa keemasannya, TIM adalah panggung untuk WS. Rendra, Arifin C. Noer, Putu Wijaya dan Sardono W. Kusumo - untuk beberapa nama. Oleh karena itu, TIM juga menjadi tolok ukur keberhasilan, tidak hanya untuk seniman dari ibukota, tetapi juga dari seluruh Indonesia.


Namun, para seniman seharusnya tidak hanya menentang revitalisasi hanya dengan memuji nilai-nilai masa lalu. Mereka harus melihat ke masa depan, terutama karena proyek revitalisasi TIM sudah berlangsung. Menghentikan pekerjaan sebelum selesai hanya akan mengakibatkan hilangnya dana daerah yang telah dihabiskan. Total biaya pembangunan kembali TIM adalah sekitar Rp1,8 triliun.


Tidak ada yang salah dengan upaya pemerintah Jakarta untuk membangun kembali TIM dan memasukkan fasilitas modern. Bagaimanapun, Singapura memiliki pusat seni Esplanade dengan fasilitas yang baik. Alih-alih menolaknya, seniman harus mengawasi revitalisasi untuk memastikan bahwa TIM dikembalikan ke pusat seni yang bergengsi. Satu hal yang harus mereka lakukan adalah memantau manajemen dan memastikan kurasi kegiatan dilakukan dengan baik.


Dengan kata lain, setelah revitalisasi selesai, TIM harus dikelola secara profesional. Pusat seni tidak dapat dijalankan dengan cara slapdash. Seniman harus diberi insentif untuk menghasilkan karya berkualitas.


TIM masa depan adalah TIM dengan bangunan dan infrastruktur modern sebagai ekosistem yang mendorong seniman untuk menghasilkan karya seni yang memukau.

3 views

©2019 by Hanny Wijayanti. Proudly created with Wix.com

This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now